Kanker serviks disebut silent disease
karena penyakitnya berjalan lambat dan tidak menunjukkan gejala khas
pada saat stadium awal. Namun bila wanita mengalami keputihan yang tak
kunjung sembuh, ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter dan melakukan
pemeriksaan kanker serviks.
Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus
(HPV) yang menyerang serviks atau leher rahim dan membutuhkan proses
yang panjang antara 3-20 tahun untuk menjadi sebuah kanker yang diawali
dengan infeksi. Hal inilah yang menyebabkan hampir 80 persen kasus yang
ditemukan sudah dalam stadium lanjut.
Kanker serviks juga merupakan penyakit yang berjalan lambat (silent disease) sehingga pada stadium pra kanker dan kanker stadium awal tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali.
"Pada stadium awal hanya keputihan saja. Bleeding (perdarahan) pada saat berhubungan seks baru terjadi pada stadium III
B, saat sudah parah," jelas dr Fitriyadi Kusuma, SpOG (K), konsultasi
kanker kandungan dan staf pengajar FKUI di Divisi Onkologi Ginekologi
Departemen Obstetri dan Ginekologi, dalam acara SOHO #BetterU: Hari Ibu,
di Hotel Akmani, Jl Wahid Hasyim 91, Jakarta, dan ditulis pada Jumat
(20/12/2013).
Menurut dr Fitriyadi, tidak ada gejala khas pada
kanker serviks stadium awal. Namun keputihan yang tidak kunjung sembuh
meski sudah diobati bisa menjadi 'alarm' adanya infeksi di leher rahim
yang mengarah pada kanker serviks.
Keputihan tersebut biasanya
terjadi berulang-ulang, berbau dan tidak dapat sembuh dengan pengobatan
biasa. Pada stadium lanjut, akan mengalami rasa sakit pada bagian paha
atau salah satu paha mengalami pembengkakan, nafsu makan menjadi
berkurang, berat badan tidak stabil, susah buang air kecil dan mengalami
pendarahan spontan.
"Karena gejalanya tidak khas, banyak yang
datang ke rumah sakit pada stadium yang sudah parah. Karena itu, penting
melakukan skrining tiap tahun minimal IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) atau pap smear," tutur dr Fitriyadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar